Menurut Jacky Lo, Direktur Keuangan Grup GoTo, pembengkakan rugi bersih tersebut disebabkan oleh beberapa aspek non-kas hingga peristiwa yang hanya terjadi satu kali, yang tidak mencerminkan kinerja bisnis inti GOTO. Aspek-aspek tersebut meliputi penurunan nilai goodwill sebesar Rp 11 triliun terkait dengan penggabungan Gojek dan Tokopedia, investasi di JD, serta peningkatan beban kompensasi berbasis saham.
Meskipun demikian, jika mengesampingkan beban tersebut, rugi bersih kuartal IV-2022 GOTO sekitar Rp 6,5 triliun atau membaik 36% secara tahunan. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja bisnis inti GOTO bergerak positif meskipun masih mengalami rugi di sepanjang tahun 2022.
Edhi Pranasidhi, Founder Indonesia Superstock Community, menyarankan para investor untuk lebih memperhatikan kinerja fundamental yang dicatatkan GOTO. Apalagi, harga saham teknologi masih terimbas sentimen runtuhnya Silicon Valley Bank (SVB). Namun dalam jangka panjang, investasi pada saham teknologi seperti GOTO masih potensial dan layak untuk diinvestasikan.
Andrew Sebastian Susilo, Research Analyst MNC Sekuritas, memproyeksikan bahwa GOTO dapat mencapai target EBITDA positif yang disesuaikan lebih cepat 4-6 kuartal lebih awal dari panduan. Caranya adalah dengan menaikkan take rate sebesar 20 bps per tahun hingga 2025 dan mengoptimalkan biaya dengan rasionalisasi promo dan perampingan jumlah pegawai.
Meskipun demikian, harga saham GOTO ditutup anjlok 6,90% ke level Rp 108 pada Senin (20/3). Namun, dalam jangka panjang, investasi pada saham teknologi seperti GOTO masih potensial dan layak untuk diinvestasikan, asalkan para investor memperhatikan kinerja fundamental perusahaan dan memahami risiko yang mungkin terjadi.
.jpg)
0 Komentar